JeRiT HaTi

Ku hanya mampu mengagumimu
Dan melihat cahayamu
Dalam setiap hening nafasku.
Karena aku terlalu jauh
Darimu dan hatimu.

Kuciumi kenyataan ini,
Ah, masih ada aroma kasta
Yang mensejajarkan kita
Dalam ketimpangan logika.                                 
Aku tak mampu merasionalkannya.

Pernah ku menutup mata
Dan memaksakan asa,
Tapi yang ku dapati hanya luka.

Kini sudah ku fahami
Arti kegelisahan yang ku tapaki.
Hanya hanpa, tidak lebih.
Dan biarlah
Ku kan bersembunyi disini,
Di sudut tersepi ini
Bersama jerit hati abadi.

JANGAN TAKUT DIKRITIK

Taukah kamu? Bahwa Tuhan, Sang Pencipta dan pemberi rizqi yang Maha Mulia saja kerap kali mendapatkan cacian dan cercaan dari orang-orang tolol yang tak berakal. Maka, apalagi kita, manusia biasa yang sudah menyandang gelar; mahallul khoto’ wan nisyan (tempatnya salah dan lupa). Dalam hidup ini, terutama jika kita adalah seseorang yang selalu memberi, memperbaiki, mempengaruhi, dan membangun, maka kita akan selalu menjumpai keritika-keritikan yang pedas, pahit, asam, asin, dan keritikan-keritikan yang lain. Bahkan, mungkin pula mendapatkan cemoohan dan hinaan dari orang lain.

Apabila hal itu sudah terjadi, maka cobalah kita untuk menafakuri apa yang pernah di wejangkan oleh Syaikhinal Faqier ila rohmatillah Sholeh Sinwan Adra’i. Beliau pernah berkata, “Janganlah engkau pernah berfikir menjadikan semua orang di dunia ini akan merasa suka dan cocok terhadap dirimu, tapi berfikirlah; bagaimana caranya agar kau tetap berperasangka dan bersikap baik terhadap mereka. Sungguh banyak orang-orang yang dikucilkan, ditindas, diancam, difitnah, dihina, diusik ketenangannya, bahkan ada yang sampai dibunuh. Tapi justru mereka menjadi lambang bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat di sisi Alloh. Sebagian contohnya adalah Nabi Nuh As, Beliau berdakwah kurang lebih 950 tahun mengajak kaumnya pada jalan kebenaran, tapi dia justru dicemooh dan dianggap GILA bin SENTENG alias STRESS oleh kaumnya. Dan juga Nabi Ibrohim As, yang Alloh memanggilnya dengan sebebutan Kholilullah (Kekasih Alloh) atau yang juga dikenal sebagai Bapaknya ilmu tauhid. Justru dibakar hidup-hidup oleh kaumnya. Bahkan Nabi Muhammad SAW, Sang Insan sempurna yang menjadi penutupnya para Anbiya’, yang sudah dibai’at oleh Alloh sebagai manusia pertama yang akan menginjakkan kakinya di taman surgaNya. Dia pun tak luput dari hinaan dan cacian kaumnya. Dituduh sebagai tukang sihir dan dibilang orang tak waras, itu sudah biasa. Bahkan beliau hampir terbunuh saat berada dalam peperangan Uhud.” Lalu apa makna dari semua itu? Apakah Alloh memang benar-benar rela dan membiarkan hamba-hambanya dipermainkan dan didholimi? Jawabannya adalah; Tidak. Semua itu hanyalah pengukuhan tidak logis dari Alloh atas kualifikasiNya di dunia ini untuk mencari siapakah hamba yang benar-benar berhak untuk menyandang gelar sebagi True Fighter (pemenang sejati) dari Alloh?

“apabila engkau bercita-cita menjadi sebuah pohon yang kokoh, tinggi dan besar,

Maka, bersiap-siaplah untuk diterpa angin dan badai. Tapi bila engkau tidak siap,

Jadilah saja rumput kecil yang tumbuh di tengah-tengah semak belukar,

Tapi siap-siaplah dikencingi dan di kotori oleh binatang-binatang yang lewat didekatmu.”

Perlu kita ingat-ingat lagi, bahwa orang yang duduk di atas tanah tidak akan pernah terjatuh, dan manusia tidak akan pernah menendang anjing yang sudah mati. Adapun mereka, marah dan kesal kepada kita adalah karena mungkin kita mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak tanduk, ataupun harta. Jelasnya, kita di mata mereka adalah orang berdosa yang tak terampuni sampai kita melepaskan semua karunia dan nikmat Alloh yang ada pada diri kita. Dan menjadi orang yang bodoh, goblok, tolol, miskin, melarat, sakit-sakitan, dan menderita adalah yang mereka inginkan dari diri kita.

Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. Kuatkan jiwa untuk mendengarkan keritikan dan hinaan mereka. Bersikaplah laksana batu karang yang tetap kokoh meski terus-menerus diterpa ombak yang besar. Maksudnya, jika kita merasa terusik dan terpengaruh dengan kritikan mereka, berarti kita telah meluluskan keinginan mereka untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan kita. Padahal, sikap terbaik yang harus kita lakukan adalah menjawab atau merespon kritikan itu dengan menunjukkan sikap yang baik. Biarkan saja mereka, dan jangan pernah merasa tertekan oleh setiap upaya mereka untuk mnjatuhkan kita. Sebab, kritikan mereka yang menyakitkan itu pada hakekatnya merupakan ungkapan penghormatan untuk kita. Dalam artian; Keberadaan kita sudah diperhitungkan oleh mereka. Dan yakinlah, bahwa bagaimanapun dahsyatnya tipu daya mereka untuk manghinakan kita, sungguh tidak ada manfaatnya sama sekali. Sebab yang mempunyai wewenang untuk memulyakan atau merendahkan derajat seseorang hanyalah Alloh Robbul ‘Izzaty. Janganlah bersedih dan janganlah takut atas semua yang mereka katakan. Jadikan saja semua itu sebagai motivasi untuk bisa berkarya dengan yang lebih baik untuk selanjutnya. Anggaplah bahwa kejadian-kejadian seperti itu merupakan sebuah hukum alam yang tidak dapat ditolak dalam kehidupan ini. Karna pada hakekatnya, apabila kita ingin diterima oleh semua pihak, dicintai semua orang, dan terhindar dari cela, berarti kita telah menginginkan sesuatu yang mustahil terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk diwujudkan.


Article by; Rohman El Zarazy CaLm
(Masa-masa indah di Bumi Katol)

Good Bye Nurusshaleh...!

Nurusshaleh……
Ku bersimpuh menatapmu dengan acuan air mata
Mengenang masa-masa indah
yang takkan kembali di hari esokku.
Lalu, terlintas dan terasa dalam benak ini akan sesal
Saat segontai kaki menatap esok yang jauh di sana
Saat tangan mulai meringkus waktu menjadi alur cerita.

Nurusshaleh……
Dengan kibaran semangat penuh arti
Kau lukis kalimat santun
pada senja yang tak sempurna dalam kanvas hidupku
Untuk menyingkap tabir-tabir kejahilan
yang terselubung dalam logika.
Penamu telah menggores malam dengan nurun ala nurin
Suaramu telah berirama menjadi fatwa-fatwa pengusir kegelapan.

Nurusshaleh……
Melepasmu bukanlah senyum dan canda tawa
Mengasingkanmu dari hati dan jiwa
bukanlah arti dari kebebasan. Serta,
bukanlah sebuah pesta
saat wajah tak menatapmu dari waktu kewaktu.
Tapi, tangisan dalam gelap yang menanti atas sesal.
Maka, berikanlah bekalmu di hari ini untuk yang esok
Kibarkan bendera keagunganmu
untuk menaungi langkah-langkah yang terlepas,
Ketika telinga tak mendengar
dan mata ini sudah tak bisa menatapmu menuju kedamaian
Saat derama kehidupan mulai menyentuh iramanya.

Nurusshaleh……
Berdiri disini esok adalah putra-putramu
Yang menanti dan berharap sama
Serta tersenyum penuh harapan.
Ajari mereka tentang kejujuran dan keadilan
dari putaran waktu hingga senja melukis masa.
Berikan mereka semangat menggenggam pena
di atas kertas kesucianmu.
Jadikan mereka yang terbaik dari pada yang baik
Jadikan mereka generasi yang mampu menghapus kejahilan
Jadikan mereka yang menulis penuh dengan kejujuran
hingga kau dapat melihat mereka lalu kau terhibur.

Nurusshaleh………
Ku langkahkan kedua kaki untuk meninggalkan mu
Dengan lambaian tangan.
Karena waktu telah memanggil ku untuk hari yang esok.
Ku teteskan air mata
Dan berharap di atas hamparan sejadah penyesalan
Semoga engkau dapat meridhoi Jiwa dan raga
Yang selama ini terayun dalam pangkuanmu.
Ku ucapkan selamat tinggal
Namun, bukanlah yang terakhir dari segalanya,
Bukanlah yang terlepas dari sebuah tatapan,
Bukan pula sebuah pisah
yang tak pernah kembali menjadi sua kebersamaan.

Wahai…… Nurusshaleh
Maafkan dosa dan khilaf saat ini dan untuk selamanya
Atas cerita yang tak pernah menjadikan sejarah mu sebagai impian.
Selamat tinggal Nurusshaleh…
Nama mu akan tetap basah dalam kekeringan hatiku.
Selamat berjuang pada yang menanti dan yang mengharapkan mu
Karena mereka adalah adik-adikku
yang akan terbangun oleh suara irama fatwamu.
Jadikanlah ceritanya sebagai mutiara
yang berkeliau dalam gelapnya malam.
Karena di depannya
Berkobar beribu tantangan yang akan menerkam.
Selamat tinggal dan selamat berjuang Nurusshaleh.

By; Rohman eL Zarazy Calm SerbaSalah
(Bumi Katol Dalam Senandung Kegelisahan)

Sebait Senyum Untuk Nurusshaleh

Nurusshaleh…
Bagaimanakah engkau harus ku baca?
Dengan nurani saja?
Ataukah dengan logika tak sehat pula?

Nurusshaleh…
Dari sudut manakah engkau harus ku lihat?
Diantara cita-cita dan cinta?
Ataukah hanya dalam khayalan saja?

Nurusshaleh…
Namamu begitu bercahaya
Seterang rindu yang sudah ku persiapkan untukmu.
Tapi, di sekelilingmu burung-burung berkicau ria
Mendendangkan sesuatu
Yang tak pernah ku pinta dalam doa-doa panjangku.
sedangkan di atas altar sucimu
Masih tersisa amis darah para pahlawan tanpa jasa
Yang tertikam ego dan spekulasi yang tiada henti.
Potret buram mereka terpanpang menawan
Laksana lukisan-lukisan keabadian.

Aku gelisah Nurusshaleh… Aku resah…
Maka idzinkanlah aku untuk melihat wajahmu lebih dekat.
Biar ku taburi dirimu dengan wangi bunga seribu warna.
Agar burung-burung itu bungkam
Dan terpesona dengan keagunganmu.
Di atas mu akan ku nyalakan lampion-lampion kecil seindah pelangi,
Agar terlihat jelas wajah-wajah para hipokrit
Yang senantiasa menjilati warna asli mu,
Dan hanya bersembunyi di balik dzikir-dzikir murtadnya.

Nurusshaleh…
Ku haturkan maaf sedalam kalbu untuk mu.
Teruslah bersinar dalam jiwaku
Dan bila kau lelah
Rebahlah sejenak dalam imajinasiku,
Kan ku belai dirimu dengan senyuman terindahku.

(Bumi katol dalam Senandung kegelisahan)

Arti Cinta

“Cinta tak perlu dipaksakan Atau pun harus dipendam. Bila cinta datang Diusir pun ia tak kan hilang. Ia bagian dari hidup Tak harus dipungkiri Ia begitu lembut menghuni jiwa Merangkul perbedaan rasial, Standing dalam ruang sama Ikatannya begitu halus, kasat mata, Hanya bisa dirasa, Tak mungkin terjamah. Pertimbangan commonce sence Tak kan mampu menafikannya Ia terlalu kuat ditentang Terlalu angkuh dilawan Terlalu mahal diperdagangkan. Bila ia datang bertandang Tak perlu dicaci Atau pun diraih sepenuh hati Ia dilahirkan dari kesepian Sang Adam Melahirkan hawa pelipur lara.”

Sya’ir-Sya’ir Cinta

Ku nantikan seberkas cahaya
Kala gelap kembali menyapa.
Ku lantunkan sya’ir-sya’ir cinta
Kala wajah ceriamu tiada lagi menggoda.
Telah ku terbangkan sayap harapan
Tapi langit tak ada jawaban .
Letih hatiku terselubung sendu
Mengharap sesuatu yang tiada menentu.
Aku tak tahu …
Rindu ataukah sentuhan angin lembut cinta
Kuasai hatiku?
Yang ku tahu
Diam-diam hati ini telah memuja mu.
Ku coba untuk ungkapkan segala rasa
Dengan sejuta cara.
Namun, lidah terasa kaku
Diam dan tetap membisu.
Mungkin hari ini kan bertanya
Apakah esok ku masih berkelana
Ataukah lusa butiran cinta dapat kau baca?
Dan hati terus saja berbisik,
Dapatkah ku meraih mu
Dengan segenap kekurangannku?
Ahh… …
Mungkin aku terlalu larut
Dalam indahnya mimpi khayalan.
Hingga ku telah berani menapakkan kaki
Dan melangkah menuju istana hatimu
Dengan secercah cahaya cinta
Yang hanya mampu bersinar di kedalaman jiwa.
Biarkan rasa ini tetap ada
Walau tak pernah terlafadkan dengan kata.
Biarkan aku memujamu dengan cara yang sederhana.


eL-shofia Linor

RiNdU sAmAr


Ku lukis rindu samar
Dengan bayang semumu
Ternyata……
Cinta ini tak berubah musim.

Pernah ku berlari kala rindu mengancamku
Tapi, saat ku merasa terlepas darinya
Seakan ada yang hilang dariku;
Jiwaku, cintaku, dan juga dirimu.

Hanpa ku rasa
Sepi menyiksa
Aku harus kembali
Karena aku dan rindu adalah satu.

T I R A N I H A T I

Bahasa terkelam
Terhenti di bibir malam.
Lilin temaram,
jiwa terajam.
Hati patah
Tangis pecah.
Ku ingin membeli
secercah cahaya pada malam,
Ku tawar saja kebahagiaannya,
Mencicipi ketenangannya.
Lalu ku hargai
dengan selembar kenangan.
Mereka bilang ini “cinta”
Tapi bagiku ini hanyalah mimpi.
Karena setelah ku terbangun,
Semuanya kosong dan hanpa.
Mereka bilang aku “naïf”.
Ku pasung saja doa tanpa tadah;
Semoga masih tersisa
Setitik cahaya buat gelapnya.

DALAM GELAP


Taukah kamu……?
Dalam gelap selalu ku hayati cahayamu
Berharap; sinar itu bisa ku dekap
Dan bisa terangi sudut hati yang semakin gelap.

Ah ……
Terlalu bersinar dan terlalu berarti
Cahaya itu untuk ku nanti.
Seakan tak ada ruang dan waktu untuk kudapati.

Lihat saja aku dengan keanggunanmu.
Dalam gelap ku tergeletak putus asa.
Biarlah ku kan menutup mata dengan erat
Dan menunggu gelap yang lebih pekat.

SABDA CINTAMU

Pada mula bait, sumsum ini lebur
Tangisan ini pun tanpa air mata.
Penyesalan-penyesalan terangkum bagai prosa hitam
Tampa titik koma
Surat-surat yang bersirat ku tatap lekat
Ah…… Aku bangsat, aku nekat.
Kaulah yang terbaik bagiku.
Aku tersesat dalam belantara cinta
Peta itu, kompas itu, semua milikmu.
Ku terperanjat sadar tampa kata
Kaulah yang terbaik bagiku.

Cukuplah sempurna sabda engkau beri
Laksana paradigma penyejuk hati.
Kini, ku sadari wahai peri….
Permintaanmu ku garis bawahi
Kini, ku mengerti wahai bidadari……
‘’Kepercaya’an hanya satu kali.’’
Tapi……
Yang tak pernah ku sadari
Sejauh mana aku berlari.
Dan yang tak pernah ku mengerti
Setinggi mana aku bermimpi.
Terima kasih wahai pelita hati…
Biarlah langkah ini kan ku ratapi.

BIARKAN AKU MENANGIS

Kala malam berselimut gelap nan kelam
Biarkan aku menangis dalam satu isakan yang dalam
Karena aku ingin menyatu dengan tangismu
Dan larut bersama air matamu
Hingga aku kan sirna seiring waktu
Tak membekas dalam fikiranmu
Hilang dan terlupa dari ingatanmu
Kala mantra-mantra cinta
Sudah mampu menutupi lubang dalam hatimu.

Biarkan tangisku
Berbaur bersama nyanyian alam
Hanya terisak dan tersedu kemudian membisu
Meski tersayat seiring asa yang terlelap.

Biarkan aku menangis
Dalam kepekatan malam yang bisu.
Dan sekarang, biarkan aku berkata;
“Selamat tinggal”
Karena ku sudah tak bisa menangis.

KALAM TERDAHSYAT

Sungguh tak terbayangkan deti-detik melepas kepergiannya, meski tak akan selamanya, tapi waktu akan cukup ampuh untuk merampas segalanya; merampas jiwaku, jiwa yang terus berlari mengejarnya. Merampas mimpiku, mimpi yang berada di bawah kakinya dan juga merampas semangatku, semangat yang layu bahkan mati tanpa dirinya. Perpisahan, memuakkan sekali kata-kata itu membuatku ingin muntah, muntah darah. Memang tiada yang pandai untuk meramal hari esok, tapi andai saja sua setelah perpisahan adalah suatu kepastian, bukan keajaiban, hati yang rapuh ini tak kan terjamah oleh permainan badai-badai keraguan. Ragu akan kehadirannya kembali dan ragu intonasinya akan terevolusi oleh ganasnya waktu, karena terlalu aneh bagiku untuk selalu meyakinkannya agar aku tatap bertahta dalam singgahsana hatinya, aku ini siapa dibanding dia? Aku ini hanyalah seorang sudra yang ingin belajar dewasa dengan cinta. Aku pun tak tau; sekedar kasihan ataukah memang ada cinta di kedalaman hatinya? Tapi aku tak peduli karena aku sudah terlanjur cinta kepadanya.
“Ar…….. aku ini tidak pandai ber-acting dan aku juga tidak pandai membuat skenario, jadi janganlah kau anggap ini sebuah derama!! Karena aku tidak akan pernah mempermainkan kamu dan aku benar-benar mencintai mu. Percayalah!!” keluhnya waktu itu, saat aku berlagak seperti anak kecil dan meragukan ketulusannya. Dia terlihat sedikit kecewa karena mungkin sudah beribu duri tajam ku tancapkan di hatinnya –maafkanlah aku sayang.
Karenanya ku pupuk berjuta asa dimasa depan, ingin membangun gubuk kecil untuk kita berdua di kejauhan angan, walau disetiap ujungnya kan terselip dengan menyebut takdir Tuhan. Dialah yang terbaik bagiku dan senyumannyalah yang membuat darahku berdesir-desir syahdu. –Kawan, Aku tidak bisa mati tampa dirinya.
Menjelang hari pengumuman kelulusan dia datang menghampir ku. Dia datang dengan seribu teka-teki yang harus ku jawab tampa soal-soal. Aku tak bisa, aku awam. Terlihat awan-awan kelabu, lelap bersarang di wajah melancolisnya. Dia menatap ku dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang tak pernah ku kenal sebelumnya “Sungguh, jangan tatap aku seperti itu. Jika tidak, aku akan menjadi debu di sini,” jerit hatiku menahan tiap burusan-burusan tatapannya. Wajahnya yang teduh, seteduh langit biru –bukan, bahkan lebih dari itu– terlihat berbeda kala itu, seakan ada berjuta ton pemberat di mata indahnnya itu. Semuanya memang terasa serba berbeda, langit pun terlihat berbeda dengan mendung-mendung pekatnya. Aku masih tak mengerti, ada apa dengan semua ini? Kala pertanyaan-pertanyaan bergelut mengecutkan senyum manisku –dialah yang bilang kalau senyumku manis– dia berkata serak dan sedikat tertahan dengan nada yang terdenngar serius, “Ar… kamu tau ga’? mungkin dalam waktu dekat ini aku harus pergi, pergi jauh mengejar mimpi.” DHEZZZZZZZZ………… beton-beton itu ia lontarkan menghujami diriku yang masih berdiri dengan tatapan kosong menganga. Aku pongah dengan kepala mendongah, mendung-mendung pekat menertawakan ku. Bumi seakan retak menelan dan mengubur ku serta mimpi-mimpiku di bawah kakinya. Inilah gempa terdahsyat yang pernah aku rasakan. Memang, bukan hanya satu-dua kali dia memadamkan lampu kesadaranku, tapi inilah yang terdahsyat. “Pergi jauh mengejar mimipi” inilah yang terdahsyat, mimpi itu sepertinya hanyalah mimpi buruk, mimpi yang membius mimpi-mimpi indahku menjadi tak berdaya, menjadi luruh dan memelas kepadanya, “Jangan tinggalkan aku, rangkullah aku, aku lemah tanpa mu, bawalah aku atau hancurkan aku jika kau memang tak peduli pada ku, selebur debu yang ada di bawah kakimu, dari pada sang waktu yang akan mencengkeram dan melumat-lumat perasaanku.”
Hatiku semakin sempit untuk berkilah, beku. Dadaku telah kehabisan argument untuk melawan kenyataan, yach kenyataan manis semanis empedu, kenyataan yang membuat ku tidak bisa membedakan antara pahit dan manis. Keraguan dan kecemasan teraduk-aduk di bawah sadarku yang semu. Aku lelah, sungguh inilah yang terdahsyat. “Kapas tertiup angin” itu ungkapan yang sepertinya sangat pantas untuk mengejek keadaanku waktu itu, kala kalam terdahsyat menghantam ulu hatiku.

Rohman eL zarazy
Lerpace, 22 desember ‘09

EPILOG SEBUAH ASA

Suasan di sore itu nampak begitu cerah dan indah. Langit cemerlang tampa mendung-mendung yang menggunung, hanya ada secercah-secercah mega berwarna jingga menyala menambah keindahan langit yang seakan tersenyum menatap dunia. Tapi keindahan yang sempurna itu tak dapat meredam kegelisahan di hati Rofi. Entahlah, sejak pulang sekolah tadi, hatinya seperti diselimuti kejanggalan dan kegelisahan, seakan ada sesuatu yang akan terjadi dalam lembar warna-warni hidupnya. Dalam keraguan ia bertanya-tanya pada hati kecilnya, “Kanapa ya perasaanku kok ga’ enak begini?” desahnya seraya menatap langit-langit kamarnya. Saat ia tengah bergelut dengan beribu pertanyaan-pertanyaan yang kian mengganjal di hatinya, tiba-tiba ponselnya berdering. Setelah ia melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya, ia bertambah bingung, karena yang menelponnya adalah Daila, orang yang selama ini menjadi penghias mimpi-mimpinya. “Daila……?! Ada apa ya kok tumben menelpon ku jam-jam begini? Padahal tadi kan udah ketemu di sekolah?” Rofi membatin. Cepat-cepat ia menjawab panggilan itu, “Hallo il… tumben, ada apa?” sapanya. Suara yang di seberang sana nampak menyahut agak serak dan tertahan, “Rof, kita harus ketemu sekarang, aku ada perlu sama kamu, penting!! Bisa kan?” “sekarang?! ada apa sich? Penting banget ya? Kenapa ga’ dibicarain tadi aja di sekolah?” jawab Rofi seakan tak mengerti. Bingung, heran, dan ragu semua bergelut di kedalaman hatinya. Daila membisu, Rofi semakin bingung dan heran. “Baikilah kita ketemuan sekarang, tapi dimana?” kata Rofi memecah kebisuan. “Kamu datang aja ke sini di samping sekolah. cepat ya, aku tunggu…!!”
Dengan hati berdebar, Rofi langsung mengambil sepeda motornya dan cepat-cepat pergi menuju tempat yang telah dijanjikan oleh kekasih hatinya itu. Setelah dia tiba di tempat itu dan melihat Daila tengah menatap kedatangannya dengan sangat lekat, hatinya semakin berdebar. “Ada apa sich kok kamu ngajakin ketemuan di sini?” Rofi mulai bertanya. “Sebenarnya ga’ ada apa-apa, aku hanya ingin…… aaa… ingin mengatakan sesuatu sama kamu, tapi kamu janji ya kamu ga’ akan marah?!” kata Daila. Rofi semakin bingung dibuatnya. Tapi setelah ia melihat ada secercah keseriusan di wajah Daila, wajah yang telah membuatnya melewati malam-malamnya tanpa terlelap dengan tenang itu, dia mencoba untuk mengabulkan permintaan kekasih pujaan hatinya itu. “Ada apa sich? Bikin aku khawatir aja?! Baiklah, aku ga’ akan marah?!” “Rof maafkan aku karena selama ini aku selalu membuat kamu khawatir, gelisah, dan mengganggu ketenangan hatimu. Rof, terus terang aku tidak ingin larut dan melangkah lebih jauh lagi dalam menyiksa batinmu” ucap Daila, wajahnya pias. “Daila… apa sich maksudmu? kamu jangan bicara begitu, aku sayang kamu,” “Rof aku mengerti perasaanmu, aku tau akan ketulusan cintamu. Dan sekarang, aku benar-benar merasa tidak pantas dengan semua itu” Daila menangis, “Rof, mungkin selama ini aku telah berbohong padamu juga pada perasaanku sendiri. Satu hal yang harus kamu ketahui, Rof terus terang aku senang banget saat kau ungkapkan perasaanmu dulu padaku karena masih ada orang memperhatikan dan peduli kepadaku. Tapi bagaimana pun aku harus jujur pada perasaanku sendiri meski ternyata sekarang aku sudah terlanjur berbaur dengan dunia yang asing yang tak pernah ku harapkan sebenarnya, yaitu duniamu. Rof, bukannya aku ingin mempermainkan perasaanmu, tapi waktu itu aku benar-benar bingung, disatu sisi-sisi aku ingin jujur kepadamu kalau aku tidak mencintai mu tapi disisi lain aku takut mengecewakan mu. Rof, maafkan aku ya…” Daila melanjutkan kalimatnya dengan disertai airmata penyesalannya. Rofi tak kuasa lagi menahan gejolak hatinya, dadanya terasa sesak. Kalimat-kalimat Daila itu begitu ganas menghujam jiwanya bak kerikil panas burung-burung ababil menghujani perasaannya, lututnya pun tak kuasa lagi berdiri, dia meringkuk luruh tertunduk seraya bergumam, “Benarkah yang kau katakan itu? Sungguh tak pernah ku bayangkan, apakah itu memang tabiat kaum hawa? Sekarang benarlah apa yang dikatakan teman-temanku; bahwa di hatimu memang tidak pernah ada cinta untuk ku, tapi mengapa engkau tak pernah berterus terang akan hal itu? Mengapa?? Ah… sungguh sekarang aku benar-benar sadar kalau semua itu hanyalah keegoisan dan kemunafikanmu belaka. Sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri…!!” mulutnya gemetar seluruh tubuhnya pun bergetar seakan tertimpa gempa-gempa kecil dari kedalaman hatinya. Melihat semua itu, sekali lagi Daila berkata memohon permaafan darinya, “Rof maafkan aku. Sebenarnya aku…” “Pergilah…..!!!” Rofi semakin tertunduk.
Perlahan sang raja siang mulai rebah ke dalam peraduannya menyulap aura senja menjadi bayang-bayang malam kelam, sekelam perasaan Rofi yang tertindas keegoisan cinta. Betapa kekelaman telah bertahta dan menguasai hatinya, hingga senja yang begitu indah terlewati begitu saja dengan penuh air mata. Senja yang indah pun sudah menjelma malam yang pekat, Rofi semakin terpuruk dalam derita hatinya yang dalam, karena sudah tiada lagi senjata yang akan bisa ia andalkan untuk melawan kepekatan malam kecuali dengan linangan airmatanya, walau pada hakekatnya air matanya sudah tak mengalir, tertambat dan terus terbendung hingga akhirnya berubah menjadi kolam-kolam racun di kedalaman hatinya. Racun itulah yang akan terus dan terus membumbui jiwa dan fikirannya. Malam pun semakin larut dengan keheningannya, dia masih mematung terjaga, ia merasa sepi, terkucil, dan terasing. Tatapannya menerawang jauh menembus sudut-sudut langit yang gelap tanpa bintang, segelap hatinya yang telah dirongrong oleh keegoisan cinta. Sesekali ia menundukkan tatapan kosongnya ke dadanya, seakan-akan khawatir hatinya akan keluar dari dada itu karena terus tertekan dan tertekan oleh nestapa. Sementar di kejauhan malam, terdengar jangkrik-jangkrik dan burung malam terus tertawa mengejek dari balik kegelapan. Akhirnya, dia pun terlelap tanpa sadar ditelan malam yang telah menjajah perasaannya.
Walau keadaannya tidak begitu stabil karena terus dirongrong oleh kesedihan dan penderitaan, Rofi tetap menghatur langkahnya untuk pergi ke sekolah. Setelah ia tiba di sekolah dan memarkir sepeda motornya, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya dari belakang, suara itu terdengar sedikit tertahan, ada getar keraguan dari intonasinya. Dia hafal betul dengan suara itu, mungkin itulah sebabnya dia tidak menoleh. “Rofi tunggu……!!” Daila memanggilnya, tapi dia masih memalingkan wajahnya. “Rof, maafkan aku ya… sebenarnya tak ada niat bagiku untuk mengecewakan kamu dan menyakiti hatimu,” katanya lagi. Dengan sisa-sisa ketenangannya Rofi mejawab, “Sudahlah, sudah lama aku lupa dengan yang namanya sakit hati, sudah terlalu kenyang dengan kata-kata itu hingga aku tak bisa merasakannya lagi, kejadian pahit-manis yang ku lalui hanyalah ku anggap sebagai lelucon yang lewat begitu saja bagiku,” ungkapnya. Padahal pada kenyataannya hatinya sangat terluka. kemudian dia berkata dengan sisa-sisa ketegarannya, “Sudahlah, jalani saja apa yang telah menjadi prinsip hidupmu janganlah kau fikirkan aku, aku ga’ apa-apa, sudah biasa.” Kemudian dengan langkah gontai dia beranjak dari tempat itu membawa kepingan hati yang kian menyesakkan dadanya, sementara Daila masih terpaku kekal menatap kepergiannya dengan menghayati kata-katanya yang berlambangkan kepedihan itu. Daila bergumam, “Aku bangsat, aku berdosa, aku telah mengecewakan dan menyakiti hatinya. Rofi maafakan aku… maafkan aku…” langkah Rofi semakin gontai dan berat, tiba-tiba saja langkahnya terhenti, spontan saja dia menoleh kemudian berteriak lantang dengan tangan terlentang menghadap Daila yang masih membeku di tempatnya, “Daila……!! Kamu ga’ bersalah, hanya aku yang bodoh, aku lugu dan ga’ akan pernah ada yang bisa mengerti diriku. Ini salahku karena aku ga’ pernah berani mastiin siapa sebenarnya diriku? Aku tak berani mengungkapkan kalau cinta adalah keegoisan, kemunafikan dan kesengsaraan. Aku hanya berani memaksakan cinta yang pada hakikatnya hanyalah airmata.” Itulah kerikil-kerikil cinta yang selama ini tertambat dalam lubuk hatinya, semuanya telah ia hempaskan layaknya seorang ksatria, dan sekarang ia merasa jantungnya sudah tak berdebar lagi, mungkin juga sudah tak bedetak.

aL Qur'an

Kita pasti kenal Al quran, karena sebagai orang islam yang hidup dalam komonitas islam pula, sejak belum lahir pun kita sudah dibisiki dengan ayat-ayatnya. Sedari kecil kita sudah diperkenalkan untuk mengeja huruf demi huruf dan kalimat demi kalimatnya hingga kita pun dapat meraba ayat-ayat serta surat-suratnya. Membaca ayat-ayat Al quran, demikian selama ini kita diajari. Tanpa mengerti artinya pun sudah ibadah, apalagi bagi yang mengerti. Begitulah kemurahan Tuhan. Tapi, apakah sebenarnya maksud Al quran diturunkan? Apakah hanya sekedar untuk dibaca sesuai dengan namanya sendiri, Quran, yang berarti bacaan? Tentu saja tidak. Tapi Al quran itu untuk dibaca kalimatnya, dimengarti artinya, direnungkan kandungannya, dan diamalkan pesannya. Itulah tujuan seutuhnya. Tapi, seperti yang telah kita ketahui bahwa hanya segelintir orang yang mungkin bisa demikian. Jadi, apakah Al quran itu hanya diperuntukkan buat para orang `Alim yang dapat menguasai kriteria yang tersebut diatas? Sekali lagi tidak. Karena Al quran diturunkan oleh Alloh berperan sebagai rahmat, dan siapapun berhak dan pantas untuk mendapatkan rahmat itu. Al quran akan merangkul siapa pun, kapan pun dan dimana pun tergantung pada kondisi batin & kapasitas pemikiran si pembaca. Tak menampik apakah itu orang islam atau bukan.
Bagi para pakar sosiologi, Al quran akan tampil sebagai kitab yang mencetuskan teori-teori sosial yang mengagumkan. Bagi para filosof, fisikawan, sejarawan, rohaniwan, sastrawan, budayawan dan para ahli lainnya Al quran merupakan sumber inspirasi yang subur yang tak pernah kering dengan teori-teorinya yang autentik yang tak dapat dipertentangkan. Itu sebabnya Al quran disebut dengan kitab multiwajah, karena semua orang pasti bisa berekspresi dan berinteraksi dengan Al quran sesuai dengan anggapan dan prasangkanya terhadap Al quran. Ya meskipun semua itu berbeda-beda. Karena sesungguhnya al quran adalah firman Alloh Swt yang berperan kongkrit sebagai pengganti-Nya di dunia sebagai penunjuk dan Rahmatan lil Alamin. Jadi, apapun anggapan kita terhadap Al quran sebenarnya itulah anggapan kita kepada Alloh. Dan Alloh akan selalu berada dalam anggapan itu, Ana `Inda Dhonni Abdiby.
Maka secara melihat dari semua itu dapat disimpulkan bahwasannya Al quran bukanlah hanya sekedar bacaan biasa, tapi merupakan bacaan tentang jati diri. Jadi kita sebagai orang mukmin yang selalu ingin berislam dengan kaffah, baik dalam aqidah, ibadah ataupun akhlaqiah. serta berkepribadian dan berpemikiran yang selalu cocok dengan Al quran, hendaknya kita selalu berperasangka baik kepada Alloh dan menjernihkan/mensucikan kondisi batin kita dengan jalan mempelajari hikmah bersesuci/berwudhu` serta ta`awudz yang selalu kita kerjakan sebelum kita membaca

K A R E N A M U

Perpisahan itu telah membuatku resah
Dan torehkan luka yang terus menganga
di kalbuku yang masih dahaga telaga cintamu
Sungguh aku tak mampu kehilanganmu
Sosokmu yang teramat sempurna di mataku
Tak mengidzinkan untuk sedikit membuka celah
Karena memang tak ada yang sanggup
Menggetarkan hatiku
Yang terlanjur beku karena cintamu.
Lentera kecil dihatiku kian meredup
Membuatku tak merasa apa yang kurasa
Hingga aku takut tak bisa lagi
Menerima kehadiran rasa yang paling indah
Bernama cinta.
Semua itu karenamu,
Karena kenangan yang terlalu manis
Yang tak mudah terkikis
Walau dengan tangis.
Sekarang tolong beri tahu aku
Bagaimana caranya
Menghapusmu dari hatiku?
Hanya itu

KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

Ketika Sang fajar mulai muncul mengintai bumi, hati tak kuasa menahan perihnya gelombang asmara percintaan. Kicauan burung menyanyikan melodi cinta terdengar dari sudut-sudut alam yang mengintai sang insan yang lagi merana dibalik batu taman bimbi.
Kedurjanaan telah merantai relung kalbu yang penuh dengan tawa bahagia dikala sang fajar melambaikan tanganya di Alam raya, suasana terasa gelap gulita mengalabui pakian alam yang penuh dengan warna warni keindahan. Mulut terasa bungkam dan terkatup disaat sang bidadari terbang dari kayangan menjelma dihadapanku merayu-rayu meminta perhatianku, memupuskan kemauan hatiku yang sudah terbang bak pasawat Adam Air yang ingin menghampiri kota Paris nan jauh disana. Bidadari itu telah menghipnotis kemauanku dan cita-citaku yang melambung tinggi diatas sana mencari jati diri untuk masa depanya, namun…! Aku sadar bahwa bidadari ini adalah makhluk utusan Tuhan yang diturunkan untuk menguji nyaliku dihadapan tatapan kesuksesan di alam indah ini.
Keluargaku adalah orang agamis dan akademis yang ingin memberikan penghargaan termulia terhadap anaknya tuk menghadapi masa depan kelak.. Kurundingkan kedua cintaku terhadap orang yang memberikan titisan darahnya terhadap diriku dalam rangka memilih yang terbaik dalam aplikasi hidupku ini, tapi keadaan, ucapan dan kemauanya berbeda dengan harapanku yang terlena akan bidadari cantik itu. Perasaan jiwaku selalu tertuntut memenuhi tuntutan perasaan birahi.yang aku miliki, itulah gravitasi cewek yang mempunyai nama LAYLA yang selalu membuatku terhipnotis disaat melihat bibir merah delimanya.
Namun…! kuucapkan lafal pujian terima kasih terhadap Tuhan, ketika kuingat diriku akan terombang ambingnya perasaanku dikala aku harus memilih dua cinta yang aku miliki. Dikarenakan aku bisa memilih cinta yang terbaik dalam aplikasi hidupku ini berkat wadaliini yang so’ penda’i hebat dalam memberikan tausiahnya terhadap diriku. “Cinta bisa membutakan dan kadang bisa membahagiakan asalkan tidak didasari nafsu birahi”, itulah perkataan temanku yang so’ bijak dikelas XI.
Hari demi hari ku lalui dengan dipenuhi hantu kebingungan yang kian tidak menentu arah hidupku, kemana kaki harus melangkah dan kemana tangan harus meraba mencari solusi kemauan hati yang kontraduktif? Dan akhirnya kupasrahkan diri kepada Sang Ilahi Robbi sebagai manevestasi kelemahan insan dengan sholat Istikhoroh dalam rangka mengharap petunjuk-Nya

Islam Bukan Konsep

Zaman modern telah merambat kemana-mana baik di timur maupun dibarat disertai dengan efeknya terhadap mayoritas manusia, terutama bagi kalangan remaja. Banyak anak remaja dizaman modern yang bertingkah tidak sesuai dengan jati dirinya atau dengan kata lain bertingkah imitatif. Semua itu bisa terjadi dengan berbagai faktor pengglobalisasi cara hidupnya. Yang paling berpengaruh dari globalisasi itu ialah adanya bermacami media yang selalu menyodorkan tayangannya terhadap remaja dengan mempromosikan mode atau tren-tren ala barat yang tidak relevan dengan norma-norma doktrin agama islam. Sehingga orang yang jadi penonton setia terpengaruh dengan tayangan yang tidak mendidik itu, banyak anak remaja zaman sekarang yang mengkonsumsi produk kultural barat tanpa melakukan penetralisiran terlebih dahulu, seperti halnya mereka mengidolakan Nabi-nabi palsu mereka (artis) yang notabenenya tidak mengenal ajaran syare’at agama, sehingga merekapun rela mengorbankan diri mereka demi sang idolanya itu. Ironisnya hal itu telah merasuk kepada jiwa-jiwa yang selalu di hembuskan dengan hawa malaikat, sehingga merekapun menghilangkan identitas diri mereka dari ekstensi substasialnya. Mereka tidak sadar akan diri mereka yang telah diperkosa oleh trend-trend yang tidak sesuai dengan eksistensi diri mereka yang sebenarnya. Mungkin bisa ditoleransi kalau hal itu terjadi pada orang yang tidak mengenal rambu-rambu syareat, karena mereka tidak tau dalam memberi penilaian terhadap dirinya, tapi sangat disayangkan kalau hal itu terjadi pada orang yang notabenenya mengenal ajaran syare’at (katakanlah itu santri yang berdomisili dipesantren)
Menurut Dr. Umar Hasyim, anak remaja hidup dalam dua dunia, yang mana kedaan ini sangat berpengaruh bagi perkembangan masa remajanya:
1. Dunia hayalan, anak remaja selalu mendambakan apa yang tidak di milikinya
2. Dunia nyata, yang menuntut manusia harus bertindak secara realistis dan obyektif
Kemajuan modernisasi bukan saja membawa dampak positif terhadap perkembangan islam, tapi malahan sebaliknya, dengan kamajuan modernisasi banyak orang yang semakin jauh dengan norma-norma doktrin agama islam. Dengan kemajuan modernisasi pula banyak orang yang mengharap akan kemajuan dan perkembangan sub kulturalisasi agama islam, agar agama islam tidak di katakan kolot dan terbalakang, tapi realita berbicara lain, bahwa dengan kemajuan modernisasi kulturalisasi agama islam tercederai atau di perkosa oleh trend ala budaya barat. Maka sangat relevan kalau Rasulallah bersabda, ”Ummatku akan mengikuti cara hidup orang Yahudi dan Nasrani sedekit demi sedikit, sekalipun mereka masuk kelubang biawak.”
Agama selalu memberikan motivasi terhadap pengikutnya agar hidup kreatif, tapi bukan dengan cara mengikuti tren ala barat yang ditayangkan diberbagai media elektronik. Islam bukan agama konsep dan teori yang dibaca secara leteral saja tanpa mengaplikasikan kandungannya, tapi islam adalah agama yang akan membawakan kesejahteraan bagi manusia di muka bumi ini dengan memberi injeksi pendidikan kepada umatnya, dan hal itu tidak bisa diraihnya kecuali dengan mengaplikasiakan ajarannya secara intensif dan koprehensif.
Orang islam di zaman globalisasi sekarang ini banyak yang tidak mengakui akan identits diri mereka. Mereka gengsi kalau harus menampilkan kulturalisasi yang dinilai kolot oleh orang non islam, misalkan menampakkan pakaian yang sesuai dengan jatidirinya sebagai orang islam, mereka lebih memilih pakaian yang super mini and ketat yang tidak mencerminkan kultural islam.

ولن ترضى عنك اليهود والنصارى حتى تتبع ملتهم. الاية

Golongan missionaris dan zionis tidak akan pernah putus asa untuk mengkolonialisasi ummat islam lewat berbagai cara. Sehingga orang islam patuh dan tunduk terhadapnya. Kalau saya amati, ternyata orang-orang missionaris mulai berhasil melakukan visi dan misinya lewat kulturalisasi islam, sehigga orang yang dulunya dikenal sakral oleh masyarakat telah berubah menjadi orang yang di khawatirkan oleh mesyarakat, siapa lagi kalau bukan orang islam itu sendiri. Mereka sudah menjadi buah bibir masyarakat, karena kelakuanya banyak yang sudak tidak mencerminkan ekstensi dirinya, Mereka berpakian yang tidak mencerminkan kultural islam, kalau mereka di introgasi mereka bilang dengan nada setoi ”gaul meen…!!!” padahal mereka tidak tau arti gaul yang sebenarnya. Mungkinkah kita sadar akan kelakuan kita sendiri. yang perlu kita sadari bahwa kultur agama kita sudah diperkosa oleh budaya luar.

bahaya matrealis

Kondisi dunia telah berubah sesuai dengan tuntutan zaman yang merongrong manusia agar hidup kapitalis dan matrealis. Hal itu terbukti di dunia yang termasuk dalam katagori negara maju seperi Amerika dan Eropa. Namun terlepas dari itu semua, kita sebagai orang Islam harus mawasdiri dan sensitif dengan keadaan dunia kapitalis dan matrealis, karna itu bukan tujuan utama dan partikulir dalam hidup yang sementara ini. Apa lagi orientasi hidup seorang muslim adalah kebahagiaan dunia dan akhirat, dan kebahagiaan itu tidak tergantung pada dimensi kapital dan materi. Sangat amoral jika seorang muslim atau muslimah dalam memberi setandar atau mengukur kebahagiaan hanya terletak pada materi beleka, tanpa memperhatikan takdir yang sudah ditentukan dan digaris bawahi oleh Allah SWT tentang ketentuan adanya rizqi materi.

Islam menjungjung tiggi kesataraan dalam hidup ini. Islam tidak membenarkan adanya hidup kapitalis dan matrealis, seperti yang direalisasikan oleh orang barat. Oleh karna itu, Islam mewajibkan zakat terhadap umatnya sebagai manifestasi dan refleksi dari ekstensi kehidupan sosialisme. Jadi tidak etis dan logis kalau orang Islam menilai bahwa kehdupan ini hanya terletak pada materi saja, apalagi penilaian itu dilontarkan oleh kaum hawa yang sifatnya pasiv (menuggu) dalam menentukan pendamping hidupnya.

Cobalah kita bercermin dan mengkaji historis hidup yang direalisasikan oleh Rosulullah SAW, maka kita akan menemukan pelajaran berharga tentang suatu revolusi perjuangan Islam, dimana waktu itu Rosulullah SAW mengawini Siti Khotijah yang notabeninya termasuk orang hartawan dan bangsawan. Dengan begitu yakin dan cintanya kepada Rosulullah Siti Khotijah mendermakan dan mengoprasionalkan semua hartanya demi perjuangan suminya, sehigga suaminya menaruh perhatian lebih tehadapnya dibandingkan dengan istri-istrinya yang lain.

Yang perlu dicatat dan digaris bawahi dari ilustrasi historis hidup Rosulullah diatas ialah; “Yang lebih etis dan berhak untuk mempuanyai sifat matrealis itu ialah kaum adam mengingat tangung jawab dan beban yang disandangnya lebih banyak daripada kaum hawa,” apalagi Nabi pernah bersabda tentang cara orang laki-laki memilih pendamping hidupnya dengan mendahulukan materi.

تنكح المرأة لأربع: لمالها, ولنسابها,ولجمالها, ولدينها. الحديث
ARTINYA:
Orang perempuan boleh dinikahi atas empat dasar:
1). Harta (orang kaya).
2). Nasab yang baik (bukan anak orang bajingan).
3). Kecantikan (bersifat relative bagi kaum laki-laki).
4). Agama (agama islam)

SIZUKA, TERSENYUMLAH…!!!

“JikA kaU bErSeDih
SuDikaH kAu
mEmBagi kEseDiHaN iTu deNgAnQ?
Bila Kau GeLiSaH
MaUkaH Kau
MeNumPahKan keGeLisaHan iTu PadaQ?
DaN kEtiKa kAu mEnaNgiS
IDziKaN AirMaTamU TeRtAmPunG di HaTiQ”

Begitulah diantara sekian banyak sms Doraemon yang selalu ia kirimkan sekedar untuk menghibur hati Sizuka. Memang, sejak tiga bulan yang lalu, sejak Nobita pergi meninggalkan dia untuk selamanya, hatinya selalu diselubungi kabut-kabut duka berkepanjangan yang seakan tiada akhir. Ia begitu sock dan kaget atas kabar kematian Nobita disebabkan kanker otak yang dideritanya itu. Pada mulanya ia sangat menentang atas kabar itu. Karena menurutnya, tak sedikitpun Nobita mengeluh atau pun bercerita tentang penyakitnya itu. Namun akhirnya ia sadar dengan disertai linangan air matanya, saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa jasad sang kekasih tambatan hatinya sudah terbujur kaku tanpa ekspresi di depannya. Ia terisak, tersedu, dan … “Gak mungkin, gak mungkin, ya Alloh…… mengapa Engkau mengambilnya dariku? Mengapa, padahal Engkau Maha Tahu kalo aku sangat mencintai dia? Aku tak bisa hidup tanpanya……,” ratapnya sembari menutupkan kedua tangannya di mukanya, seakan tak rela. Hingga akhirnya dia pun luruh dalam pelukan ibunya, pingsan.
Sejak kejadian itu, Sizuka seakan tak bergairah lagi menjalani kehidupannya. Hari-harinya dilalui bagaikan palsu. Waktu-waktunya hanya dihabiskan dengan melamun. Ia terlihat begitu menderita, tak pernah sedikitpun ia beranjak sekedar untuk menepis ataupun melupakan penderitaanya. Saakan ia begitu akrab dan bersahabat dengan deritanya itu. Mungkin inginnya dia bisa larut dan menyatu dengan derita itu, hingga segala aktifitasnya pun terbengkalai. Seluruh keluarganya panik dan menghawatirkan keadaannya. Bermacam cara telah mereka lakukan untuk menghibur dan meyakinkan hatinya. Tapi gagal. Hingga akhirnya Doraemon, sahabat Nobita sekaligus teman akrabnya, merasa iba dan berkeinginan untuk menghiburnya.
Doraemon mencoba menghibur hati Sizuka. Mengajaknya tuk menertawakan kepedihan, menasehatinya agar mencela penderitaan, dan mengajarinya supaya mengingat-ingat kembali bagaimanakah cara tersenyum. Dia dengan sabar menulis sms untuk Sizuka, entah itu sms lucu atau pun nasehat, meski tak satu pun dari puluhan sms itu yang dibalasnya. Dia pun sering ke rumah Sizuka, sekedar untuk mengajaknya bicara agar ia tidak melamun terus-terusan atau kadang ia menghiburnya dengan cerita-cerita humornya. Doraemon sudah tidak asing lagi bagi keluarga Sizuka, bahkan orang tua Sizuka sering memanggilnya untuk membujuk sizuka, saat dia tidak mau makan. Mereka sangat bersyukur atas kehadiran Doraemon yang bisa membuat Sizuka sedikit berubah dari keterpurukannya.
Pada suatu hari. “Pak, gimana ya kalo kita menjodohkan Sizuka dengan Doraemon saja? Soalnya mama yakin kalo Doraemon pasti bisa membahagiakan dia,” kata mama Sizuka. “Kalo papa ikut gimana baiknya aja ma, Kayaknya sich mereka memang cocok,” jawab papanya. Dan setelah dimusyawarahkan dengan keluarga besar Doraemon, ternyata hal itu disambut baik oleh mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk menjodohkan Sizuka dengan Doraemon dan mereka tinggal mencari waktu yang tepat untuk menentukan hari pertunangan mereka berdua.
Mendenar rencana pertunangan itu Sizuka sangatlah terkejut, terlebih-lebih Doraemon. Doraemon benar-benar kaget dan tak yakin atas rencana itu. “Gimana bisa seperti ini?” gumamnya. Karena dia menganggap bahwa segala perhatiannya selama ini terhadap Sizuka hanyalah sekedar perhatian seorang sahabat yang tengah prihatin melihat keadaan sahabatnya, tidak lebih. “Kamu mencintainya?” sungguh, dia benar-benar tidak bisa menjawab saat Jayen, sahabatnya, menanyakan seperti itu. “Lalu, apa kau menerima begitu saja rencana pejodohan itu jika kau tak mencintainya?” Tanya sahabatnya lagi. “Friend…… do’akan aku. Semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik atas masalah ini. Tapi yang jelas, kalau ini memang yang terbaik buat Sizuka, apa pun akan ku lakukan demi kebahagiaannya dan juga demi sahabatku Nobita karena dia pernah memintaku untuk selalu menjaganya,” ungkap Doraemon datar, sedatar tatapannya yang lurus ke depan seakan menerawangi demensi alam tanpa batas. Begitu juga dengan Sizuka. Saat itu dia bagai terperangkap dalam badai kebimbangan. “Duhai Nobita kekasihku…… katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana?” ia mengeluh dalam isakan panjangnya. Dia juga merasa tidak enak sama Doraemon karena sejak kejadian itu dia tidak pernah telpon, sms, apalagi mendatangi rumahnya lagi. Fikiran Sizuka kian terbebani dengan masalah itu hingga sedikit demi sedikit kondisinya kembali memburuk seperti saat ia kehilangan Nobita beberapa bulan yang lalu. Orang tuanya pun kembali bingung. Mereka mencoba menelpon Doraemon, tapi akhir-akhir ini nomornya tidak pernah aktif. Akhirnya, karena sekedar ingin menghibur hati Sizuka, mereka berencana mengajak Sizuka untuk bertamasya. Pada mulanya dia tidak mau. Tapi setelah dibujuk oleh mamanya akhirnya dia mau juga. Mereka juga mengajak Doraemon beserta keluarganya dalam kesempatan itu.
Hari itu. Saat mereka tengah asyik melihat-lihat beraneka macam bintang dalam kebun binatang itu. Tiba-tiba saja Rizuki, adik Sizuka, merenggek-renggek pada mamanya “Ma…… Rizuki pengen itu!!” renggeknya sambil menunjuk seorang pemuda bertopi dan menggendong ransel yang sedang asyik memotretkan kamera digitalnya pada aneka binatang di depannya. “Ga’ boleh…… !!” sahut mamanya. Tapi dia terus merenggek dan menyebut-nyebut kamera digital itu, hingga akhirnya terdengar oleh sang pemuda itu. Spontan saja dia menoleh sambil membuka topinya. “Adek pengen ini?” ungkapnya sambil menjulurkan kameranya pada Rizuki. Mereka tersentak kaget, semua tercengang, kaget melihat raut muka sang pemuda yang tengah tersenyum aneh di hadapan mereka. Mereka masih terdiam dibungkam ketidak percayaan, terutama Sizuka. Dia terpaku kekal di hadapan pemuda itu. Tanpa terasa airmatanya menetes dalam ketercengangannya. Dia benar-benar kaget, tak percaya, tak mungkin, ah…… “Kak Nobita…!! Kakak kemana aja sich sekalang kok ga’ pelnah main ke lumah? Kiki kan kangen,” sapa Rizuki sambil berhambur ke pelukan pemuda itu. “Nobita…??!” pemuda itu membatin sambil mengerutkan keningnya, heran. “Ee… iya… anu… kakak akhir-akhir ini sibuk banget, jadi ga’ bisa maen ke rumah adek,” jawabnya gugup sembari memeluk Rizuki. Sizuka semakin terpaku dalam kebisuannya, airmatanya kian tercucur, kakinya gemetar seakan ditopangi berjuta ton pemberat ditubuh indahnya itu. “Benarkah kau Nobita??” jerit batinnya. Doraemon pun masih bingung. Lidahnya kelu tak kuasa berkata meski sekedar tuk bertanya; siapa sebenarnya pemuda itu? “Tak mungkin dia Nobita,” dia mencoba meyakinkan hatinya karena dia sadar bahwa sahabatnya itu sudah meninggal dunia.
Pada mulanya pemuda itu merasa heran dan aneh melihat orang-orang di hadapannya yang kelihatannya sangat kaget melihatnya. Tapi entah kenapa setelah sedikit bercanda-canda dengan Rizuki ia sepertinya cuek-cuek saja kayak tidak ada masalah. Padahal, dia sudah melihat dengan jelas kalau orang-orang di depannya masih diselubungi kebingungan, terutama Sizuka yang masih saja menangis dalam kebisuannya. Tapi pemuda itu terus saja tersenyum tenang seakan tak mempedulikan mereka.“Emm…anu…ngomong-ngomong kamu……,”Doraemon membuka pembicaraan, tapi dia masih gugup. “Maksud kamu, siapa saya…?” sahut pemuda itu yang hanya dibalas dengan saling pandang oleh mereka sebagai tanda bahwa mereka masih tidak mengerti. Kemudian “Nich…… coba lihat!!” kata pemuda itu sambil memberikan sebuah foto yang diambil dari ranselnya. Mereka mengamati foto itu. Yang jelas foto itu adalah foto pemuda itu bersama seseorang yang sama persis dengannya, baik mukanya atau perawakannya, hanya rambut salah satu dari mereka agak panjang. “Itu adalah fotoku bersama kakakku,” ungkapnya. Mereka semakin bingung dan penasaran; siapa sebenarnya pemuda itu. “Oh iya…… perkenalkan, namaku Sunio, dan yang rambutnya agak panjang di foto itu adalah saudara kembarku. Dia adalah kakak yang baik, kami begitu dekat,” katanya datar, seakan memendam beban yang begitu besar di hatinya. “Tapi, lima tahun yang lalu kami broken home, kedua orang tua kami bercerai. Aku dipaksa untuk ikut bersama ayah ke luar kota sedangkan dia tetap tinggal bersama mama. Dia adalah kakak yang baik. Dia adalah kak Nobitaku,” imbuhnya. Semua tercengang mendengar cerita itu. Mereka saling pandang dan kemudian larut dalam perasaannya masing-masing. Ternyata Nobita memiliki saudara kembar. “Dan ketika kami mendengar kabar kalau kak Nobita telah meninggal, papa menyuruh ku tuk menemani mama karena mungkin dia sangat sedih dan kesepian,” Sunio melanjutkan ceritanya, tampaknya dia sangat bersedih. “Nak Sunio, kami juga sangat kehilangan atas kepergiannya. Semoga saja dia mendapatkan tempat yang layak di sisiNya,” kata papa Sizuka, berusaha menegarkan hati seseorang yang sebentar lagi akan menjadi tetangga barunya itu.
Sizuka sangat terkejut atas kejadian itu. “Betapa rumitnya tangan-tangan takdir mempermainkan skenario hidupku,” ia mengeluh. Bagaimana tidak, sudah sekian lama dia berusaha tuk memendam luka di kedalaman hatinya dan mengubur kenangan-kenagan silam antara dia dan Nobita. Tapi tiba-tiba saja luka itu kembali berdarah-darah dan bayang-bayang masa lalunya kembli datang menjelma ibarat monster yang menakutkan dan menggelisahkan hatinya. Dia memejamkan matanya mencoba tuk menyelami kedalaman hatinya. Sungguh, sejauh ini dia masih belum bisa memahami dan memaknai perasaannya sendiri. Dia seakan terjebak dalam perasaan-perasaan itu. Disatu sisi dia masih sangat mencintai Nobita dan tidak bisa melupakannya. Apalagi sejak dia bertemu dengan Sunio, dia merasa bahwa Sunio adalah sosok renkarnasi dari Nobita yang sengaja dikirim oleh Tuhan untuk menutupi lubang dalam hatinya. Tapi disisi yang lain dia tidak ingin menyakiti kedua orang tuanya yang sudah menjodohkannya dengan Doraemon. Orang tua Sizuka sebenarnya kini sudah sadar kalau putri tercinta mereka pada kenyataannya tidak bisa melupakan Nobita dan masih mencitainya, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena mereka sudah terlanjur menjodohkannya dengan Doraemon. “Semoga saja Tuhan memberi kebahagiaan untuknya,” doa papanya sembari menghembuskan nafas beratnya. Doaremon pun kadang bertanya-tanya pada hatinya sendiri; “Mampukah aku membahagiakan Sizuka? Kalau pada kenyataannya dia tidak mencintaiku,” monolg hatinya.
Sizuka tersadar dari lamunan panjangnya kala HPnya tiba-tiba bordering. Dia terperanjat kaget saat melihat nama yang tertera di layar HP itu; “MY HEART” calling. Sudah tiga bulan lebih nomor itu tak menghubunginya. Rindu kembali menjajah hatinya. Tangannya terasa kaku, airmatanya kembali berderai, sungguh dia benar-benar tak kuasa mengangkat telepon itu. Aduhai… baru saja dia belajar untuk bangkit dan menatap ke depan serta tak ingin menoleh pada masa lalunya yang sudah membisu. Tapi entah kenapa kenangan itu kembali datang memanggil-manggilnya, mencabik-cabik perasaannya. Panggilan itu tak terjawab. Dia menghapus airmatanya saat satu pesan singkat (sms) hinggap di HPnya. Dia membacanya……
Dari; My Heart
AnDai Q pUnYa
sEGuDaNg kEbAhAgiAan
MaKa sEmUaNyA
kAn Q pErSeMbAhKaN
Hanx TeRuNtUk
2an Pu3 Sizuka.
By; 2an MuDa SuNio

Sms dari Sunio. Sunio sudah tau semuanya, mamanya sudah menceritakan semua tentang hubungan kakaknya dengan Sizuka. Dan setelah mambaca sms itu Sizuka akhirnya sadar, ternyata itu bukan Nobita tapi Sunio.“Nobita sudah mati,” dia membatin. Sekali lagi dia memejamkan matanya, kemudian mencoba membalas sms itu …
To; My Heart
JiKa kAu pUx sEgUdAnG
keBaHaGiaAn
IdziNkaN aQ meMinTanYa
SeGenGgAm sAjA.
SuDikAh KaU mEnGhAdiRi
pEsTa pErtUnAnGaNQ
MiNgGu DePaN?

Berat sebenarnya dia mengirim sms seperti itu, tapi dia harus tegar dan realistis demi meyaqinkan hatinya. Ternyata, bekas-bekas lara masih tersisa di hatinya.
Malam menjelma, menyisakan aura senja yang masih tersisa. Bintang gemintang sudah mulai mengerlingkan cahaya keindahannya. Entahlah, mengapa malam nampak begitu indah? Mungkin ia tak mengerti akan sebongkah kegelisahan yang kini tengah menyelimuti hati Sizuka. Sizuka masih mematung di depan kaca riasnya. Padahal, para undangan sudah mulai berdatangan menghadiri ruang tamunya. Sesekali dia menarik nafasnya dalam-dalam sambil terus memandangi potret dirinya dan mencoba berdialog dengannya “Sizuka, setegar apakah dirimu, hingga kau terus bersembunyi dalam selimut kemunafikan??” bisik hatinya. Tiba-tiba saja bayang Nobita kembali menyelinap ke dalam relung hatinya. Dia menghembuskan nafas beratnya dan berkata lirih seakan ingin membisiki bayangan itu, “Nobita… maafkan aku. Bukan maksudku tuk menghianati cintamu, tapi……”desahannya terputus. “Sizuka… sudah siap nak?” mamanya mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah gontai dia membuka pintu itu sembari mengusap sisa-sisa air matanya, masih kentara gurat-gurat kesedihan di raut wajahnya. “Sudah siap nak? Tamu-tamu sudah pada datang lo…,” ucap mamanya, terdengar jelas ada getar-getar keraguan dalam intonasinya. “Ma… doakan Sizuka ya,” Sizuka berhambur kepelukan mamanya. Pelukannya erat sekali, seakan ia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya dalam pelukan itu. “Yang tegar ya sayang, semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat kamu,” bisik mamanya agak serak. “Kita keluar yuk, tamu-tamu di luar sudah penasaran lho pengen ngelihat putri mama yang cantik ini, tapi senyum dulu dong… biar kelihan lebih cantik,” bujuk mamanya sambil menghiburnya. Mereka melangkah menuju ruang tamu, semua orang memperhatikannya terutama keluarga besar Doraemon. Doraemon pun nampak tenang dengan seutas senyumnya yang kalem. Padahal sebelumnya dia sangatlah risau dengan pertunangan itu. Sesaat setelah itu, Sunio datang bersama mamanya yang kemudian disambut hangat oleh Doraemon. Dia tersenyum pada Sizuka seakan menggoda, tapi senyuman itu hanya dibalas dengan senyuman yang hambar seakan dipaksakan yang mengandung arti; Save My Soul. Sebentar lagi acara pertukaran cincin akan dilaksanakan. Tapi… “Para hadirin semua yang saya hormati. Terima kasih kami ucapkan kepada kalian semua Karena telah sudi menghadiri undangan kami,” Doraemon menyapa para undangan disertai senyum lebarnya. Semua mata tertuju padanya dan mendengarkan ucapannya. “Sebelum pertunangan ini dilakukan, saya ingin mengatakan satu hal yang mungkin tidak pernah kalian duga sebelumnya,” lanjut Doraemon. “Nobita adalah sahabat baikku. Kami sangat akrab, hingga aku dapat merasakan segala apa yang menjadi masalahnya, termasuk masalah cintanya dengan Sizuka dulu,” Doraemon memulai ceritanya. “Dia begitu menyayangi Sizuka dan tidak ingin mengecewakannya. Tapi dia merasa putus asa kala kanker otak divoniskan padanya hingga tak memberi kesempatan padanya tuk bernafas lebih lama lagi,” Doraemon menarik nafasnya dalam-dalam. Semua terdiam mendengar ceritanya. “Dan sebelum dia meninggal, dia pernah berpesan agar aku bisa menjaga Sizuka. Sizuka juga sahabatku. Aku pun ingin melihatnya bahagia dan ingin menjadi pelipur atas segala laranya karena aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Sebenarnya dari dulu aku sudah ragu, aku takut tidak bisa melaksanakan amanah sahabatku Nobita, aku takut tidak bisa menjadi sahabat yang baik buat Sizuka, namun aku selalu berusaha tuk membahagiakannya serta ingin menjadi bagian dari kegelisahan dan airmatanya. Tapi kini aku sudah tenang, karena sekarang sudah ada seseorang yang mungkin lebih pantas untuk menjaganya. Aku yakin dia pasti bisa membahagiakan Sizuka. Dia adalah sahabatku Sunio yang tak lain adalah adik kembar Nobita sendiri,” Doraemon tersenyum yakin sambil menepuk-nepuk pundak sahabat barunya itu. Sunio pun tanpak tenang, seakan sudah ada rencana sebelumnya. Memang, sejak pertemuan di kebun binatang itu, Sunio sudah ada rasa simpati pada Sizuka. Tapi dia hanya mencari waktu yang tepat aja untuk mengungkapkannya .Semua orang tampak saling pandang satu sama lain kemudian melemparkan pandangannya pada Sunio. Doraemon menatap kedua orang tuanya seakan meminta persetujuan. Akhirnya mereka menganggukkan kepala dengan disertai senyuman yang meyakinkan. “Jadi ku harap, malam yang indah ini bukanlah malam pertunangan antara aku dengan Sizuka, melainkan pertunangan antara Sizuka dengan sahabatku Sunio,” ucap Doraemon memutuskan. Sizuka tertunduk diam. Butir-butir air mata kembali menetes di pipinya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan. Dia gemetar. Dia ingin ingin berontak dan lari dari acara itu, tapi kala matanya beradu dengan tatapan Sunio, jiwanya seakan luluh lanta tak berdaya. Sunio menghampirinya. “Tuan putri Sizuka, tersenyumlah…… !! dan idzinkan aku tuk buktikan padamu bahwa aku mampu tuk membahagiakanmu. Wahai tuan putriku…… sudikah kau menerima cintaku?” ucapnya romantis sambil mempersembahkan sebuah cincin kepada Sizuka. Sekali lagi Sizuka menatap lekat tatapan Sunio, seseorang yang kini menabur berjuta harapan untuknya, dia melihat bayang-bayang Nobita tengah tersenyum manis padanya dalam tatapan bening Sunio, tatapan yang sudah lama sangat ia rindukan. Tanpa terasa dia menjulurkan jarinya untuk di pakaikan cincin itu. Dia tersenyum di sela-sela derai airmatanya. Aduhai, senyumnya tak lagi hambar, bahkan sangatlah manis, semanis senyumnya pada Nobita, dulu.
Pakong, 31 Oktober 2009

K E R U D U N G

Ku pandangi dan ku teliti sudah lima kerudung yang ku beli dari macam ragam jenis warna dan model, namun aku tak pernah memakainya kecuali hanyalah sedikit waktu saja. Ku ambil yang berwarna merah hati, karena warnanya adalah warna favoritku. Ku pakai kerudung itu dengan perasaan malas. Ku pandangi sebuah cermin didepanku, dengan penuh kagum aku berkata pada diriku sendiri, ”Wahai wajahku, sepertinya kamu lebih cantik ketika memakai kerudung, ibumu pasti senang kalau kau terus memakainya”

Ku otak atik fikiranku dan ku ingat mungkin sudah lebih dari tiga kali ibu menyarankan diriku untuk memakai kerudung, tapi dasar aku anak yang tergolong manja yang belum bisa mematuhi perintah orang tua disebabkan karena aku masih diracuni sebuah keraguan yang selalu mengintai fikiranku. Padahal di hari ulang tahunku yang ke-17 aku dihadiahi sebuah mobil yang cukup mewah dan berharga bagiku, namun…..!!! bila ku ingat-ingat sebuah majalah yang ku baca beberapa bulan yang lalu yang mana didalamnya menyatakan bahwasanya; kerudung hanyalah sebuah budaya dalam kehidupan orang-orang timur tengah{arab}, rasanya apa gunanya aku memakai kerudung?? bukankah itu hanyalah kebudayaan orang-orang arab ??!! Kring…… kring…… kring…….
Ku angkat gagang telepon yang menggugah imajinasiku, rasa-rasanya aku mengenal suara yang di diseberang sana itu, tidak salah lagi, dialah penelpon misterius itu. Spontan……, “ Hei……kamu lagi kamu lagi. Mo apa sich kamu nelpon kesini terus??!” Ku coba bertanya sama dia, agak tidak sopan sich sedikit. “ Hay…… pa kabar? Kamu tahu enggak, aku ini patner ibumu lho……?!” mendengar pengakuannya, darahku langsung naik turun, marah kayaknya. But aku berusaha untuk menguasai diri. Tenang… tenang……
“ Jadi, selama ini kamu hanya ingin bicara dengan ibuku?”
“ Tidak juga”, jawabnya dengan tenang.
“ Lalu untuk apa?”, tanyaku
“… …” Diam diam dan diam
“ Lalu untuk apa…?!” tanyaku lagi
“ Kamu jangan salah faham dulu, nyantai dulu kenapa sich? Emm…. Sebenernya aku ada perlu ma kamu. Kata ibumu, kamu perlu nasehat, he… he… he… sorry ”
Mendengar semua itu aku hanya membisu. ” Ibu, ternyata kau masih memperhatikan diriku, walaupun aku tak bisa memenuhi permintaanmu”, ku bergumam dalam hati.
“ Ooo…… gitu ya? So, sekarang mau kamu apa?”
“ Kalo boleh sich aku mo ketemu gitu ma kamu, bukannya apa-apa atau gimana-gimana sich, hanya biar kita lebih akrab aja. Oh iya ngomong-ngomong kapan ya kita bisa ketemu?”
“ Kapan ya……?? Kalo besok gimana? Soalnya besok aku nyantai, nggak ada tugas”, kataku
“ Boleh juga. oh iya, aku boleh pake` baju merah nggak?”
“ Jangan……!! Entar pertemuan kita jadi meriah he…3x. Sorry, Cuman bercanda, oke see you tomorrow.”

Kuitari semua sudut restoran berlantai dua itu dengan penuh teliti, tepat dimeja paling pojok kutemui seorang cowok tersenyum padaku. Ku beranikan diri melangkah menghampirinya, walau sekalipun aku belum pernah mengenalnya. Tapi aku yakin pasti dia orangnya. Dan sekarang aku benar-benar telah berdiri tepat didepannya, dia masih tetap tersenyum.
“ Pakabar?” ku membuka pembicaran dengan sok akrab, ya ampun…… dia masih saja tersenyum dan hanya menjawab pertanyanku dengan senyum kudanya itu.
“ Kenalkan, Inul Darahmuda” ku ulurkan tanganku padanya
“ Yuda, Yuda Darahtua, he…he… sorry bercanda. Silahkan duduk” dia membalas uluran tanganku sambil tak henti-hentinya tertawa. Dasar, emang apanya yang lucu?

Waktu itu aku hanya memakai pakaian millenium kata orang sekarang, yach bisa digolongkan dengan pakaian yang you can see gitcu. Mulai awal ku perhatikan dia selalu memandangi pakaianku dengan pandangan yang agak aneh. Aku tersinggung, lalu ku beranikan diri untuk menegornya,
“ Kamu kok ngelihatinnya kayak gitu sich? Kamu nggak suka ya? Ya, walaupun aku berpakian seperti ini aku masih muslimah yang ta`at lho……”, Glekk, apa aku salah bicara ya?
“ Tapi, bukankah seorang muslimah tidak diperbolehkan berpakaian seperti itu? Malah seorang muslimah wajib memakai kerudung”, jawabnya. “ kerudung?! Bukankah itu hanya sebuah budaya?” Bisikku dalam hati. Ku tarik nafas panjang tak lama kemudian kuhembuskan,
“ Tapi, bukankah kerudung itu hanyalah kebudayaan orang-orang arab?” kataku agak ragu
“ Jadi selama ini kau anggap bahwa kerudung hanyalah sebuah budaya?. Kalau memang begitu berarti pakaian itu kau anggap juga sebagai budaya orang-orang barat dong……?? Asyik juga ya kalo gitu?”
“ Yach begitulah kira-kira”, hanya itulah yang bisa ku jawab “ Tapi bagaimana menurutmu kalo yang menyatakan pendapat seperti itu adalah seorang pemimpin umat, kiai misalnya?” Imbuhku
“ Maksudmu yang menganggap bahwa kerudung hanyalah suatu budaya itu? Kalo menurutku sich, siapa saja yang menyatakan suatu pendapat yang memang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Alloh, ya tetap tidak boleh diikuti. Bukankah hukum Alloh sudah jelas dalam kitabnya bahwa kerudung itu diwajibkan bagi setiap muslimah. Dan semua itu tidak bisa dirubah dengan wacana apapun. Mungkin inilah dampak negative orang terlalu banyak membaca, namun kitab dan sunnahnya ditinggalkan”.
“ Sudah ah, kayak siraman rohani aja!! Kalo bicara terus kapan makannya dong……?? Silahkan…!!” kataku mengalihkan pembicaraannya ketika aku merasa terpojokkan.
“ Yud makasih ya… kamu telah banyak memberikan keterangan atas semua keraguanku selama ini.”
Mulai saat ini aku berjanji akan memakai kerudung, aku yakin ibuku pasti senang dengan keputusanku ini. Yuda adalah sebaik-baiknya teman dalam diriku, karena teman yang baik adalah teman yang mengarahkan pada jalan kebaikan.


Self eL zarazy The Lerpace Child